Jika sebelumnya kegiatan literasi dilakukan bersama siswa di kelas, kini guru mata pelajaran secara bergiliran membawa kegiatan literasi ke perpustakaan sekolah. Setiap kelas mendapatkan jadwal kunjungan secara bergantian, sehingga perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang aktif untuk membaca, belajar, dan mengembangkan kemampuan literasi siswa.
Program ini tetap berfokus pada kegiatan-kegiatan inti literasi, dengan guru mata pelajaran sebagai pendamping sekaligus penggerak. Pola baru ini diharapkan mampu menciptakan suasana literasi yang lebih variatif, sekaligus membuat siswa semakin dekat dengan perpustakaan dan sumber-sumber bacaan.
Menurut Kepala SMAN 2 Lambu, Bapak Masyhudin, M.Pd., pengembangan program ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan rutin, tetapi dapat tumbuh menjadi sebuah kebiasaan positif di lingkungan sekolah.
“Proses ini diharapkan menjadi kebiasaan baik yang dapat terus meningkatkan literasi siswa. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, kita berharap kemampuan literasi siswa SMAN 2 Lambu semakin berkembang dan menunjukkan progres yang lebih baik,” ungkapnya.
Menariknya, gerakan ini bukan sekadar rutinitas tambahan. SMAN 2 Lambu mencatat perkembangan kemampuan literasi yang terus menunjukkan progres lebih baik dari tahun ke tahun. Capaian tersebut menjadi salah satu dorongan untuk terus mengembangkan program literasi agar semakin terarah dan berkelanjutan.
Kini, di SMAN 2 Lambu, guru tak hanya memiliki jadwal mengajar, tetapi juga memiliki “jadwal literasi” untuk mengunjungi perpustakaan sekolah bersama siswa.
Dari kelas menuju perpustakaan.
Dari membaca menuju kebiasaan.
Dari kebiasaan menuju budaya literasi.
Dan mungkin, inilah wajah baru literasi di SMAN 2 Lambu: guru bergiliran datang ke perpustakaan, siswa semakin dekat dengan buku, dan budaya membaca perlahan menjadi kebiasaan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar